Aku punya sebuah planet…

Aku banyak bicara tentang membenci bangsa ini, tapi bagaimana kalau aku menjadi pemimpin suatu bangsa?

Kita jadikan saja ini sebuah cerita fiksi. Pada tahun 3000-an, manusia tidak lagi tinggal di bumi. Manusia kini mempunyai pilihan untuk memiliki planetnya sendiri dan dapat mengajak orang lain untuk bergabung menciptakan sebuah komunitas. Yah, mirip-miriplah seperti friendster.

Aku membeli sebuah planet kecil. luas totalnya sekitar 40-50 km persegi. Awalnya hanya aku yang tinggal disitu, tapi lama-kelamaan aku mulai dikenal orang. Beberapa orang menawarkan diri untuk tinggal di dalam planetku dan bermaksud baik untuk menciptakan suatu komunitas yang damai sejahtera.

Kuterima yang sependapat denganku, yang mempunyai cita-cita dan ide yang sama, dan kutolak yang tidak kusukai. Kubatasi planet itu untuk diisi 30 orang saja pada awalnya. Aturan lain, mereka tidak boleh bereproduksi lebih dari 5 orang, karena akan membuat planet menjadi padat dan kemungkinan global warming akan semakin besar.

Kalau suatu saat mereka tidak lagi sejalan dengan ideku, mereka bisa memilih untuk meninggalkan planetku. Aku adalah pemilik planet tapi aku tidak ingin menjadi pemerintah. dengan anggota yang hanya berjumlah 30, tidak diperlukan pemimpin untuk mengatur segala kebutuhan mereka. Mereka memerintah dirinya sendiri berdasarkan ide dan cita-cita saat interview penerimaan. Sumber daya alam dikuasai bersama. Aku sebagai warga lain, tidak perlu berlaku sebagai seorang pemerintah yang dapat memiliki lebih sumber daya dengan alasan untuk membantu yang lain.

Kekayaan atas hasil kerja tetap merupakan milik pribadi. Saat planet diserang makhluk asing, merupakan hak warga planet untuk saling mengkhianati (meskipun hal itu kemungkinannya kecil karena kami mempunyai ide dan cita-cita yang sama yang saling memiliki dengan keadaan sadar penuh). Dengan demikian, kami hidup bersama dan mungkin mati bersama.

——
Beda dengan kita, yang merupakan manusia, yang pada awalnya tidak bisa memilih, harus dilahirkan dari rahim siapa, di negara apa, dengan status sosial apa, dengan agama apa, dengan atribut kita masing-masing, pintar, bodoh, terbelakang, lemah, atau kuat.

Saat kita besar, dan propaganda pemerintah tidak mempan, muncullah manusia seperti aku. Yang tidak puas dan susah untuk bersyukur atas negara yang kutempati. Saat kuingin meninggalkan negara ini, aku mengalami ketidakmampuan. keterbatasan budaya, bahasan dan latar belakang, aku harus membangun kembali semuanya dai nol.

Respond to this post