Satu trip lagi ke luar kota, kali ini ke Semarang. Dengan jarak sekitar 100-an km, kami tempuh sekitar 3-4 jam. Eduardo Aji Pradana (saya), Pankrasius Tri Wibowo, dan Edo Nicolas Sakti meluncur dari Yogyakarta sekitar pukul 14.00, dan bergabung dengan Yogi Santoso di Magelang untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke Semarang.
Salip-menyalib-disalipi, kami akhirnya dapat melalui dengan selamat lalu lintas yang cukup padat di beberapa track. Singkatnya, kami akhirnya tiba di Semarang, kami menginap di rumah Edo Nicolas Sakti, di daerah Banyumanik, Semarang atas.
Tiba pada petang hari, kamis 3 Juli 2008 kami hanya beristirahat dan bermain kartu. membosankan memang, yang kami makan hanya mie-mie instan dalam jumlah besar dan minum teh atau kopi. Perjalanan akan dilanjutkan besok siang.
Bangun pagi hari itu, kami sekali lagi memakan makanan tak sehat mie instan. Siangnya, kami mulai turun ke downtown. Tujuan pertama, Lawangsewu (tujuan utama kami ke Semarang sebenarnya adalah menemani Edo Nicolas Sakti mencari spek mesin untuk tugas kelompoknya, tapi entahlah sesampainya di Semarang dia bilang dah beres). lawangsewu tuh bangunan Belanda-Jepang yang pintunya ada banyak, tapi gak sampai 1000 lah. Tiket masuk 6000 per orang. Dengan bantuan guide, kami diantar mengelilingi bangunan yang dulunya dipakai belanda untuk ngurus hal-hal (gak sempat dengar omongannya guide). Gedung ini pernah dipakai untuk shooting film-film horror dan juga film ayat-ayat cinta yang sampai sekarang belum sempat kutonton.
Tidak menyeramkan, tidak ada perasaan takut saat mengelilingi gedung ini. Sayang, banyak coretan dimana-mana. Ada juga tour yang menjelajahi ruang bawah tanah. Kita harus memakai sepatu boot yang disediakan karena ruang bawah tanah digenangi air, dan karenanya kami harus membayar juga. Di ruang bawah tanah ini (basement) ini terdapat banyak ruang penampungan air, yang katanya sebagai pendingin, entahlah pokoknya ada hubungannya dengan kereta api. Basement ini gelap gulita, tanpa bantuan senter mustahil kita dapat berjalan tanpa menabrak dinding. Di basement inipun menjadi satu spot yang katanya menakutkan karena di sini ada ruang pemenggalan, kepala manusia tentunya. kepala-kepala yang udah dipotong tentara jepang pake samurai, di tumpuk di satu bak. mayat-mayatnya dibuang ke sungai. Well, meskipun aku ada di barisan paling belakang, hari itu sama sekali tidak ada yang menakutkan. Merinding pun tidak. Oh ya, ada yang menarik. ada kamar-kamar penjara yang ukurannya sangat kecil, mungkin 1×1,5 meter saja, dan dulunya diisi 5 orang tahanan, karenanya mereka harus berdiri saat di penjara.
Pulangnya, kami penasaran ma Wall’s piratos tuh yang keluar di iklan, jadi kami beli beberapa. tapi itu cuma cerita tambahan aja.
Next, kami makan, awalnya mau makan di Alam Indah sambil menikmati view Semarang, tapi kayaknya sepi… akhirnya kami makan di rumah makan biasa saja. Pulang. Nonton. Tidur. Sorenya kami bermain kartu lagi sampai pukul 20.30. Aku hanya kalah 2 kali hahahaha, rekor kalah terbanyak dipegang temanku, 8 kali kalah. Kami lanjutkan dengan berjalan-jalan disekitar simpang lima. Dinner, beli jajan, duduk-duduk,,, Baru sekarang aku makan yang namanya tahu petis, aku tidak begitu suka rasanya.
Bakso mata dewa, 60 ribu, gede banget, katanya seeh dalam berapa menit gitu kalo bisa habis dapet hadiah, uang ato apa gitu. Itu kata temanku, tapi karena waktu yang semakin mendekati dini hari, kami terpaksa mengurungkan niat kami itu. Sesampainya di rumah, kami bermain kartu lagi, tapi kali ini sepertinya keberuntunganku sudah habis, aku jadi loser sejati malam itu. Permainan dihentikan pukul 1.30 pagi, karena kami harus berkendara pulang ke Yogyakarta pagi harinya.
Aku bangun jam 6, hanya tidur 4 jam. Ngantuk sih tapi gimana lagi, dah bangun gak bisa bobo lagi ya gpp lah. Siangnya kami bersiap untuk pulang. Kami (mereka yang lain selain aku) berencana untuk membeli oleh-oleh. Kami ke kota lagi, singgah di toko oleh-oleh gitu, trus mereka beli wingko, dan lain-lain tuh yang semuanya bayar pake duit, jadi aku gak pengen beliin oleh-oleh buat temen-temen di Yogya.
Kami pulang, kali ini melewati jalur alternatif, lebih teduh, lebih jarang kendaraan, hanya jalan yang tidak sebaik jalan raya… Namun kami mendapatkan pemandangan yang membuatku ber-waw, kami melewati hutan pohon karet yang tumbuh dengan sangat rapi. Baru kutahu kalau daun pohon karet berubah menjadi coklat pada musim-musim ini. Ada juga padang rumput (atau mengkin bukit gundul).
Di jalanan ambarawa, aku melihat sebuah motor yang selip dan terjatuh, mirip seperti Rossi yang jatuh saat menikung di lintasan GP. Sepertinya pengendara itu keluar jalur saat menikung, dan akhirnya jatuh. padahal di samping kiri-kanan adalah jurang (meskipun bawahnya sawah siiih). Hal itu tidak terjadi pada kami, Selamat tiba di Magelang, menurunkan Yogi, lalu meneruskan kembali perjalanan menuju Yogyakarta. Singgah sejenak di Muntilan dan membeli beberapa jajanan pasar, kali ini hanya untuk aku.
Sampai di Yogya pukul 18.00, langsung install vista. ternyata filenya corrupt. sebel, aku kemudian bobo. tamat.